Keterbukaan diri merupakan kemampuan siswa dalam mengungkapkan pikiran, perasaan, dan pengalaman secara jujur kepada orang lain. Namun, masih ditemukan siswa yang memiliki keterbukaan diri rendah, ditandai dengan kurangnya keberanian menyampaikan pendapat, memendam masalah, serta enggan berkomunikasi dengan guru maupun teman sebaya. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kondisi keterbukaan diri siswa, proses penerapan konseling Islam dengan pendekatan humanistik, respons siswa terhadap layanan yang diberikan, serta perubahan keterbukaan diri setelah mengikuti layanan konseling. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif yang dilaksanakan di SMP Islam Alhasanah dengan subjek enam siswa kelas VIII.3 yang dipilih berdasarkan hasil observasi, angket, dan rekomendasi guru BK. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan angket, kemudian dianalisis menggunakan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dengan uji keabsahan melalui triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan konseling Islam dengan pendekatan humanistik mampu menciptakan hubungan konseling yang hangat, empatik, dan berlandaskan nilai-nilai Islam sehingga siswa merasa lebih aman untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya. Layanan tersebut memberikan perubahan positif terhadap keterbukaan diri siswa yang ditunjukkan melalui meningkatnya keberanian berkomunikasi, kepercayaan diri, serta kesediaan menyampaikan permasalahan kepada guru maupun teman secara lebih terbuka.
Copyrights © 2026