Abstrak Perkembangan teknologi digital mendorong perlunya peningkatan kapasitas kader posyandu Remaja dalam memanfaatkan media sosial sebagai media edukasi dan diseminasi infromasi kesehatan, namun keterbatasan pemahaman dan keterampilan digital masih menjadi kendala sehingga peran belum dilakukan secara optimal. Kegiatan Pengabdian ini bertujuan meningkatkan kapasitas digital kader Posyandu Remaja melalui pelatihan Problem Based Learning (PBL) yang dipilih karena memungkinkan peserta belajar dari permasalahan autentik dalam pengelolaan media sosial sehingga keterampilan literasi digital dapat diterapkan secara langsung dalam konteks tugas kader. Pelatihan dilaksanakan melalui beberapa tahapan meliputi beberapa tahapan , meliputi analisis situasi mitra, identifikasi kebutuhan, penyusunan tim pelaksana, orientasi masalah, penyelidikan kelompok, presentasi hasil, refleksi, serta tindak lanjut. Evalusi dilakukan melalui pretest dan posttest yang menunjukan peningkatan presentase 46,75% menjadi 89, 25% Hasil tersebut mengindikasikan adanya peningkatan kemampuan peserta dalam berpikit kritis, kreativitas digital, serta kepercayaan diri dalam mengelola media sosial sebagai sarana komunikasi publik. Temuan ini menunjukan bahwa penerapan Problem-Based Learning (PBL) berpotensi meningkatkan kapasitas digital kader Posyandu Remaja dan layak dipertimbangkan sebagai model pelatihan berbasis komunitas. Kata kunci: pelatihan digital; problem based learning; posyandu remaja; media sosial; pemberdayaan masyarakat. Abstract The rapid advancement of digital technology has highlighted the need to strengthen the capacity of adolescent POSYANDU cadres to utilize social media as a platform for health education and the dissemination of health information. However, limited digital knowledge and practical skills continue to hinder the effective use of social media for these purposes. This community service program aimed to enhance the digital capacity of adolescent POSYANDU cadres through Problem-Based Learning (PBL), which was selected because it enables participants to learn from authentic problems encountered in social media management, thereby facilitating the direct application of digital literacy skills in their roles as health cadres. The program was implemented through several stages, including situational analysis, needs assessment, team preparation, problem orientation, group investigation, presentation of solutions, reflection, and follow-up activities. The program evaluation employed pre-test and post-test assessments, which showed an increase in the average score from 46.75% to 89.25%. These findings indicate improvements in participants' critical thinking, digital creativity, and confidence in managing social media as a medium for public communication. Overall, the findings suggest that the implementation of Problem-Based Learning (PBL) has the potential to enhance the digital capacity of adolescent POSYANDU cadres and may serve as a promising community-based training model for strengthening digital literacy and community empowerment. Keywords: digital training; problem based learning; adolescent posyandu; social media; community empowerment
Copyrights © 2026