Koinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan tuberkulosis (TBCC) masih menjadi tantangan kesehatan global karena berkontribusi terhadap tingginya angka morbiditas dan mortalitas pada orang dengan HIV. Perbedaan manifestasi klinis dan parameter laboratorium antara pasien dengan koinfeksi HIV-TBCC dan pasien HIV tanpa koinfeksi TBCC penting untuk dikenali guna mendukung deteksi dini dan penatalaksanaan yang optimal. Metode penelitian ini merupakan studi analitik observasional dengan desain potong lintang (cross-sectional) yang menggunakan data rekam medis pasien HIV yang dirawat di RSUD Sanjiwani. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling dengan jumlah sampel minimal sebanyak 120 pasien. Analisis dilakukan untuk membandingkan karakteristik demografis, manifestasi klinis, dan hasil pemeriksaan laboratorium antara kelompok koinfeksi HIV-TBCC dan kelompok HIV tanpa koinfeksi TBCC. Hasil penelitian rerata usia pasien adalah 40 tahun dan tidak menunjukkan perbedaan bermakna antara kedua kelompok (p = 0,420). Distribusi jenis kelamin didominasi oleh laki-laki dan menunjukkan perbedaan yang bermakna secara statistik (p = 0,035). Terdapat perbedaan signifikan pada manifestasi klinis berupa batuk kronis dengan selisih persentase sebesar 52% (p = 0,040) serta febris lama dengan selisih persentase sebesar 12% (p = 0,014). Pemeriksaan laboratorium menunjukkan perbedaan bermakna pada rerata kadar hemoglobin antara kedua kelompok sebesar 0,1 g/dL (p = 0,012). Simpulan: Pasien dengan koinfeksi HIV-TBCC menunjukkan perbedaan manifestasi klinis dan parameter laboratorium tertentu dibandingkan dengan pasien HIV tanpa koinfeksi TBCC. Temuan ini menegaskan pentingnya evaluasi klinis dan laboratoris yang komprehensif dalam menegakkan diagnosis dan menatalaksana pasien HIV dengan kecurigaan koinfeksi TBCC.
Copyrights © 2026