SRI MASYENI
Department of Internal Medicine, Faculty of Medicine and Health Sciences, Universitas Warmadewa, Denpasar, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Hubungan Hipertensi dengan Kejadian Sindrom Koroner Akut: Studi Kasus–Kontrol MADE BAGUS MANIK SATRIA MAHOTTAMA; KADEK SURYA ATMAJA; SRI MASYENI; SAKTIVI HARKITASARI; ADITYA YUDISTIRA
Hang Tuah Medical Journal Vol 23 No 2 (2026): Hang Tuah Medical Journal
Publisher : Universitas Hang Tuah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30649/htmj.v23i2.896

Abstract

Abstract Background: Acute Coronary Syndrome (ACS) is a major cardiovascular emergency associated with substantial morbidity and mortality. Hypertension is considered an important risk factor, yet local evidence remains essential. Objective: evaluate the relationship between hypertension and ACS occurrence in two referral hospitals in Bali, Indonesia. Methods: A hospital-based case–control study using medical record data was conducted at Karangasem and Tabanan District Hospitals. A total of 176 subjects were included: 88 ACS cases and 88 non-ACS controls. Purposive sampling with age- and sex-matching was applied. Bivariate analysis employed Chi-square test, reporting OR with 95% CI. Results: Most participants were aged >45 years (96.6%) and male (65.9%). Among cases, the most frequent ACS subtype was unstable angina (43.2%), followed by NSTEMI (34.1%) and STEMI (22.7%). The most common presenting symptoms were dyspnea (84.1%) and typical chest pain (79.5%). Hypertension was present in 39.8% of cases and 18.2% of controls. Hypertension was significantly related to ACS (p=0.002 OR of 2.97; 95% CI: 1.491–5.923).Conclusion: Hypertension is significantly related to ACS occurrence and increases the odds of ACS by nearly threefold.
Perbedaan Manifestasi Klinis Koinfeksi Human Immunodeficiency Virus-Tuberculosis dan Infeksi Human Immunodeficiency Virus tanpa Koinfeksi Tuberculosis I Wayan Aditya Dananjaya; Sri Masyeni; Indah Budi Apsari Putu; Kadek Surya Atmaja
GALENICAL : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Mahasiswa Malikussaleh Vol. 5 No. 3 (2026): GALENICAL : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Mahasiswa Malikussaleh - Juni 2026
Publisher : Program Studi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jkkmm.v5i3.25990

Abstract

Koinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan tuberkulosis (TBCC) masih menjadi tantangan kesehatan global karena berkontribusi terhadap tingginya angka morbiditas dan mortalitas pada orang dengan HIV. Perbedaan manifestasi klinis dan parameter laboratorium antara pasien dengan koinfeksi HIV-TBCC dan pasien HIV tanpa koinfeksi TBCC penting untuk dikenali guna mendukung deteksi dini dan penatalaksanaan yang optimal. Metode penelitian ini merupakan studi analitik observasional dengan desain potong lintang (cross-sectional) yang menggunakan data rekam medis pasien HIV yang dirawat di RSUD Sanjiwani. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling dengan jumlah sampel minimal sebanyak 120 pasien. Analisis dilakukan untuk membandingkan karakteristik demografis, manifestasi klinis, dan hasil pemeriksaan laboratorium antara kelompok koinfeksi HIV-TBCC dan kelompok HIV tanpa koinfeksi TBCC. Hasil penelitian rerata usia pasien adalah 40 tahun dan tidak menunjukkan perbedaan bermakna antara kedua kelompok (p = 0,420). Distribusi jenis kelamin didominasi oleh laki-laki dan menunjukkan perbedaan yang bermakna secara statistik (p = 0,035). Terdapat perbedaan signifikan pada manifestasi klinis berupa batuk kronis dengan selisih persentase sebesar 52% (p = 0,040) serta febris lama dengan selisih persentase sebesar 12% (p = 0,014). Pemeriksaan laboratorium menunjukkan perbedaan bermakna pada rerata kadar hemoglobin antara kedua kelompok sebesar 0,1 g/dL (p = 0,012). Simpulan: Pasien dengan koinfeksi HIV-TBCC menunjukkan perbedaan manifestasi klinis dan parameter laboratorium tertentu dibandingkan dengan pasien HIV tanpa koinfeksi TBCC. Temuan ini menegaskan pentingnya evaluasi klinis dan laboratoris yang komprehensif dalam menegakkan diagnosis dan menatalaksana pasien HIV dengan kecurigaan koinfeksi TBCC.