Integrasi Computational Thinking (CT) ke dalam mata kuliah kuantitatif seperti Metode Numerik masih terbatas, padahal kemampuan ini sangat esensial bagi mahasiswa di era digital. Penelitian ini bertujuan untuk mengintegrasikan dan mengevaluasi kemampuan CT mahasiswa dalam konteks pencarian akar persamaan nonlinier menggunakan metode bagi dua (bisection), posisi palsu (false position), dan secan (secant). Subjek penelitian adalah 43 mahasiswa semester empat yang mengambil mata kuliah Metode Numerik. Penelitian menggunakan pendekatan metode campuran dengan desain explanatory sequential design. Instrumen tes CT yang dikembangkan memiliki validitas isi yang baik (V-Aiken = 0,84) dan reliabilitas tinggi (koefisien Spearman-Brown = 0,89). Data dianalisis secara statistik deskriptif dan inferensial (uji Friedman, Wilcoxon, korelasi Spearman) serta analisis kualitatif melalui wawancara dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode bagi dua menghasilkan skor CT tertinggi (mean 78,6), diikuti metode posisi palsu (71,8), dan metode secan (65,4). Perbedaan antar metode signifikan (χ² = 31,45; p < 0,001). Analisis kluster mengidentifikasi tiga profil CT mahasiswa: Unggul (27,9%), Fungsional (53,5%), dan Terbatas (18,6%). Metode bagi dua paling kuat mengaktifkan dekomposisi dan algoritma; metode secan menantang pengenalan pola dan abstraksi; metode posisi palsu menawarkan profil seimbang. Temuan ini mengonfirmasi bahwa ketiga metode numerik dapat menjadi wahana pengembangan CT dengan karakteristik yang berbeda. Implikasi penelitian ini adalah rekomendasi model pembelajaran bertahap tiga fase untuk mengintegrasikan CT secara sistematis dalam kurikulum Metode Numerik.
Copyrights © 2026