Abstract Interpretasi teks keagamaan, khususnya Al-Qur'an, telah lama didominasi oleh perspektif patriarki yang menempatkan laki-laki sebagai pusat kekuasaan interpretif. Kondisi ini memunculkan ketimpangan gender yang dipandang sebagai legitimasi agama, padahal sesungguhnya merupakan konstruksi sosial-budaya yang dibawa masuk dalam proses penafsiran. Penelitian ini bertujuan menganalisis transformasi paradigma tafsir feminis kontemporer dalam membaca ulang ayat-ayat gender, khususnya pergeseran dari penafsiran patriarki radikal yang cenderung diskriminatif menuju patriarki moderat yang lebih inklusif dan egaliter, serta mengidentifikasi kontribusi tokoh-tokoh feminis Muslim dalam membongkar konstruksi patriarkis dalam tafsir klasik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode library research (kajian kepustakaan). Data dikumpulkan dari sumber primer berupa karya-karya tafsir klasik dan kontemporer, serta karya tokoh feminis Muslim seperti Amina Wadud, Asma Barlas, Fatima Mernissi, dan Faqihuddin Abdul Kodir. Artikel ini menunjukkan bahwa tafsir feminis kontemporer tidak lagi sepenuhnya menolak struktur patriarki, melainkan melakukan negosiasi dan reinterpretasi untuk mencapai keadilan gender dalam kerangka nilai-nilai keagamaan. Transformasi ini mencerminkan dinamika hubungan antara teks suci, konteks sosial, dan perjuangan perempuan dalam meraih hak-hak fundamental mereka. Temuan menunjukkan bahwa pendekatan patriarki moderat memberikan ruang dialog yang lebih luas antara tradisi dan modernitas, meskipun tetap menghadapi tantangan dari kelompok konservatif dan progresif ekstrem. Tafsir feminis kontemporer berhasil mengidentifikasi dan mendekonstruksi bias patriarki dalam tafsir klasik melalui beberapa strategi: pembacaan kontekstual historis, analisis linguistik berbasis gender, dan penerapan prinsip-prinsip maqashid syariah. Transformasi dari patriarki radikal ke moderat ditandai dengan pergeseran dari penafsiran literal-atomistik menuju penafsiran holistik-kontekstual, dari pendekatan androsentris menuju pendekatan egaliter, serta dari pemahaman teks sebagai justifikasi hierarki gender menuju pemahaman teks sebagai pembebasan manusia dari segala bentuk penindasan.
Copyrights © 2025