Banjir rob di wilayah pesisir utara Jawa Tengah, khususnya pada koridor Semarang-Demak, berdampak signifikan pada kinerja transportasi darat serta meningkatkan emisi karbon. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis emisi karbon dioksida (CO₂) dari aktivitas transportasi akibat banjir rob serta mengkaji potensi penyerapan karbon oleh ekosistem mangrove di wilayah pesisir Semarang-Demak. Pendekatan kuantitatif digunakan melalui perhitungan emisi IPCC Tier-2, analisis volume lalu lintas, serta pemetaan tutupan mangrove berbasis citra Sentinel-2 dan indeks NDVI.Hasil analisis menunjukkan bahwa volume lalu lintas pada ruas Sayung–Kaligawe mencapai ±47.788 kendaraan per kejadian rob dengan durasi kemacetan 4–8 jam, yang menghasilkan tambahan emisi sekitar 286,7–573,5 ton CO₂ per kejadian dan berpotensi melebihi 300.000 ton CO₂ per tahun. Di sisi lain, ekosistem mangrove memiliki kapasitas penyerapan karbon yang tinggi, yaitu sekitar 367–734 ton CO₂/ha/tahun, dengan simpanan karbon total >700 ton C/ha. Tutupan mangrove di Kota Semarang (111,06 ha) dan Kabupaten Demak (±1.781,18 ha) berperan penting sebagai penyerap karbon pesisir, namun emisi transportasi akibat rob yang berulang berpotensi mengimbangi kemampuan serapan tersebut. Temuan ini menegaskan perlunya integrasi pengendalian rob, pengurangan emisi transportasi, dan konservasi mangrove untuk mitigasi perubahan iklim di pesisir.
Copyrights © 2026