Metode tradisional produksi garam sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca, terutama sinar matahari, yang sangat penting untuk penguapan yang efektif. Akibatnya, efisiensi dan kualitas produk garam dapat bervariasi selama proses kristalisasi. Selain itu, kuantitas dan kualitas juga dipengaruhi oleh desain atap rumah garam. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi produk garam secara kuantitatif dan kualitatif pada rumah garam berukuran 4 x 3 x 0,3 meter. Setiap rumah garam memiliki desain atap yang berbeda: terowongan, prisma, dan limas, serta berkapasitas sekitar 360 liter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rumah garam dengan atap berbentuk terowongan secara signifikan meningkatkan pembentukan kristal selama periode 10 hari dibandingkan dengan rumah garam yang memiliki atap berbentuk prisma dan limas. Rumah garam berbentuk terowongan menghasilkan 11,20 kg kristal kubik putih yang seragam. Di sisi lain, atap berbentuk prisma menghasilkan 3,7 kg kristal berwarna cokelat muda dengan permukaan datar dan butiran halus, sementara atap berbentuk limas menghasilkan 13,15 kg garam yang terdiri dari campuran garam dan air, dengan kristal putih berbutiran besar dan permukaan datar serta halus. Hal tersebut menunjukkan bahwa rumah garam berbentuk terowongan memberikan kondisi yang optimal untuk memproduksi garam di wilayah Kalimantan Barat.
Copyrights © 2026