The development of digital technology has transformed patterns of human communication and opened up new avenues for the church to carry out evangelism as part of the Great Commission. This digital transformation presents significant opportunities to reach a global audience, yet simultaneously poses theological challenges, as digital evangelism is often more focused on the effectiveness of the medium than on the essence of God’s mission (Missio Dei). This study aims to analyse the relevance of Paul’s mission from the perspective of Missio Dei as a theological paradigm for the realisation of the Great Commission through digital evangelism. The study employs a qualitative method using a literature review approach. The findings indicate that Missio Dei serves as the theological foundation for digital evangelism, whereby the church is called to present the Gospel in a contextualised manner without altering the essence of Christ’s truth. The paradigm of the Apostle Paul’s mission demonstrates that adaptation to culture and media is a relevant strategy for proclaiming the Gospel in the digital age, making technology an effective mission field for reaching various generations. Indeed, digital evangelism has become a form of fulfilling the Great Commission that integrates theological and missional contextuality.AbstrakPerkembangan teknologi digital telah mengubah pola komunikasi manusia dan membuka ruang baru bagi gereja dalam melaksanakan penginjilan sebagai bagian dari Amanat Agung. Transformasi era digital tersebut menghadirkan peluang yang besar untuk menjangkau masyarakat global, namun sekaligus menimbulkan tantangan teologis karena praktik penginjilan digital sering lebih berorientasi pada efektivitas media daripada hakikat misi Allah (Missio Dei). Penelitian ini bertujuan menganalisis relevansi misi Paulus dalam perspektif Missio Dei sebagai paradigma teologis bagi aktualisasi Amanat Agung melalui penginjilan berbasis digital. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Missio Dei merupakan landasan teologis penginjilan digital, di mana gereja dipanggil untuk menghadirkan Injil secara kontekstual tanpa mengubah esensi kebenaran Kristus. Paradigma misi Rasul Paulus menunjukkan bahwa adaptasi terhadap budaya dan media merupakan strategi yang relevan bagi pemberitaan Injil di era digital, sehingga teknologi menjadi ruang misi yang efektif untuk menjangkau berbagai generasi. Bahkan penginjilan berbasis digital menjadi bentuk aktualisasi Amanat Agung yang mengintegrasikan teologis, dan kontekstualitas missioner.
Copyrights © 2025