Sadikun Lie
Sekolah Tinggi Teologi Harapan Indah

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Penginjilan Holistik sebagai Aktualisasi Amanat Agung: Rekonstruksi Misiologi bagi Transformasi Pelayanan Gembala Sadikun Lie
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 6, No 2 (2024): Teologi dan Pendidikan Agama Kristen - Agustus 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v6i2.564

Abstract

Evangelism is the church’s fundamental mandate in fulfilling the Great Commission, but in practice it is still often reduced to verbal proclamation focused solely on organisational routines. This situation highlights the need for a reconstruction of missiology capable of integrating the spiritual, pastoral and social dimensions into pastoral ministry. This study aims to analyse holistic evangelism as the fulfilment of the Great Commission and to reconstruct a missiology capable of transforming pastoral ministry. This study employs a qualitative method using a literature review approach; it can therefore be concluded that holistic evangelism is a biblical paradigm that integrates the proclamation of the Gospel, discipleship, acts of love, and living witness as a complete realisation of the Great Commission. The integration of the missio Dei, the Great Commission, and pastoral care positions the pastor as a missionary leader who equips the congregation to participate in God’s mission through spiritual, pastoral, social, and transformative ministry. Ultimately, Holistic Pastoral Missiology offers a reconceptualisation of church ministry so that pastoral ministry is not merely oriented towards the internal growth of the church, but results in the maturity of disciples, the empowerment of the community, public witness, and the transformation of lives.AbstrakPenginjilan merupakan mandat fundamental gereja dalam mengaktualisasikan Amanat Agung, tetapi dalam praktiknya masih sering direduksi menjadi pemberitaan verbal yang berorientasi pada rutinitas organisasi saja.   Kondisi tersebut menunjukkan perlunya rekonstruksi misiologi yang mampu mengintegrasikan dimensi spiritual dan pastoral serta sosial dalam pelayanan gembala. Penelitian ini bertujuan menganalisis penginjilan holistik sebagai aktualisasi Amanat Agung serta merekonstruksi misiologi yang dapat mentransformasi pelayanan gembala. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan, maka dapat disimpulkan bahwa penginjilan holistik merupakan paradigma biblika yang mengintegrasikan pemberitaan Injil, pemuridan, pelayanan kasih, dan kesaksian hidup sebagai aktualisasi Amanat Agung secara utuh. Integrasi missio Dei, Amanat Agung, dan penggembalaan menempatkan gembala sebagai pemimpin misioner yang memperlengkapi jemaat untuk berpartisipasi dalam misi Allah melalui pelayanan spiritual, pastoral, sosial, dan transformatif. Pada akhirnya, Misiologi Gembala Holistik menawarkan rekonstruksi pelayanan gereja  sehingga pelayanan gembala tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan internal gereja, tetapi menghasilkan kedewasaan murid, pemberdayaan komunitas, kesaksian publik, dan transformasi kehidupan.
Etika Kristen dan Hakikat Kepemimpinan Pastoral: Kajian Teologis tentang Integritas Gembala Sadikun Lie
DIDASKO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 5 No. 2 (2025): Didasko: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen - Oktober 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora Wamena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52879/didasko.v5i2.257

Abstract

Christian ethics form an essential foundation for shaping the character and direction of pastoral leadership that reflects God’s will. Pastoral leadership is not only concerned with ministerial competence and ecclesiastical authority, but also demands integrity that ensures consistency between words and actions. The issue of integrity is becoming increasingly important because inconsistencies between teachings, behaviour and leadership practices can undermine a pastor’s credibility and the congregation’s trust in the church’s ministry. This study aims to analyse, from a theological perspective, the relationship between Christian ethics, the nature of pastoral leadership and a pastor’s integrity within the context of contemporary church ministry. This study employs a qualitative method using a literature review approach. The findings indicate that Christian ethics form the theological foundation of pastoral leadership, as they shape the character, morality, and integrity of the pastor in accordance with God’s will and the example of Christ. The nature of pastoral leadership is found in the paradigm of Christ as the Shepherd who knows, protects, serves, and gives Himself for the flock; thus, pastoral authority must be realised as a responsibility of service, not domination. A pastor’s integrity is the actualisation of Christian ethics through the unity of faith and action, thereby fostering pastoral credibility, building the congregation’s trust, and supporting the church’s sustainable spiritual growth. Abstrak Etika Kristen merupakan fondasi penting dalam membentuk karakter dan arah kepemimpinan pastoral yang mencerminkan kehendak Allah. Kepemimpinan pastoral tidak hanya berkaitan dengan kompetensi pelayanan dan otoritas gerejawi, tetapi juga menuntut integritas yang selaras antara perkataan, dan tindakan. Persoalan integritas menjadi semakin penting karena ketidaksesuaian antara ajaran, perilaku, dan praktik kepemimpinan dapat melemahkan kredibilitas gembala serta kepercayaan jemaat terhadap pelayanan gereja. Penelitian ini bertujuan menganalisis secara teologis hubungan antara etika Kristen, hakikat kepemimpinan pastoral, dan integritas gembala dalam konteks pelayanan gereja kontemporer. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa etika Kristen merupakan fondasi teologis kepemimpinan pastoral karena membentuk karakter, moralitas, dan integritas gembala berdasarkan kehendak Allah serta teladan Kristus. Hakikat kepemimpinan pastoral ditemukan dalam paradigma Kristus sebagai Gembala yang mengenal, melindungi, melayani, dan memberikan diri bagi umat, sehingga otoritas pastoral harus diwujudkan sebagai tanggung jawab pelayanan, bukan dominasi. Integritas gembala menjadi aktualisasi etika Kristen melalui kesatuan antara iman dan tindakan, sehingga melahirkan kredibilitas pastoral, membangun kepercayaan jemaat, dan mendukung pertumbuhan spiritual gereja secara berkelanjutan.
Penginjilan Berbasis Digital dalam Perspektif Missio Dei: Relevansi Misi Paulus bagi Amanat Agung Sadikun Lie
Jurnal Lentera Nusantara Vol 4, No 2 (2025): Lentera Nusantara: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/jln.v4i2.565

Abstract

The development of digital technology has transformed patterns of human communication and opened up new avenues for the church to carry out evangelism as part of the Great Commission. This digital transformation presents significant opportunities to reach a global audience, yet simultaneously poses theological challenges, as digital evangelism is often more focused on the effectiveness of the medium than on the essence of God’s mission (Missio Dei). This study aims to analyse the relevance of Paul’s mission from the perspective of Missio Dei as a theological paradigm for the realisation of the Great Commission through digital evangelism. The study employs a qualitative method using a literature review approach. The findings indicate that Missio Dei serves as the theological foundation for digital evangelism, whereby the church is called to present the Gospel in a contextualised manner without altering the essence of Christ’s truth. The paradigm of the Apostle Paul’s mission demonstrates that adaptation to culture and media is a relevant strategy for proclaiming the Gospel in the digital age, making technology an effective mission field for reaching various generations. Indeed, digital evangelism has become a form of fulfilling the Great Commission that integrates theological and missional contextuality.AbstrakPerkembangan teknologi digital telah mengubah pola komunikasi manusia dan membuka ruang baru bagi gereja dalam melaksanakan penginjilan sebagai bagian dari Amanat Agung. Transformasi era digital tersebut menghadirkan peluang yang besar untuk menjangkau masyarakat global, namun sekaligus menimbulkan tantangan teologis karena praktik penginjilan digital sering lebih berorientasi pada efektivitas media daripada hakikat misi Allah (Missio Dei). Penelitian ini bertujuan menganalisis relevansi misi Paulus dalam perspektif Missio Dei sebagai paradigma teologis bagi aktualisasi Amanat Agung melalui penginjilan berbasis digital. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Missio Dei merupakan landasan teologis penginjilan digital, di mana gereja dipanggil untuk menghadirkan Injil secara kontekstual tanpa mengubah esensi kebenaran Kristus. Paradigma misi Rasul Paulus menunjukkan bahwa adaptasi terhadap budaya dan media merupakan strategi yang relevan bagi pemberitaan Injil di era digital, sehingga teknologi menjadi ruang misi yang efektif untuk menjangkau berbagai generasi. Bahkan penginjilan berbasis digital menjadi bentuk aktualisasi Amanat Agung yang mengintegrasikan teologis, dan kontekstualitas missioner.