Sistem pelayanan kantin manual pada Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara (KPwBI Sumut) menghadapi permasalahan asimetri informasi harga dan bottleneck transaksi yang mengakibatkan utilisasi server kritis sebesar 93,3% dengan rata-rata waktu tunggu 13,2 menit per pelanggan. Penelitian ini menerapkan Petri Net sebagai metode pemodelan formal untuk menganalisis dan membandingkan alur transaksi sistem manual (PN₁) dan sistem digital tiga modul RuangRasa (PN₂). Data dikumpulkan melalui pengukuran lapangan langsung selama 10 hari kerja menggunakan stopwatch digital dan kuesioner tervalidasi terhadap 54 responden (pegawai organik dan THOS). Hasil pemodelan menunjukkan PN₁ memiliki kompleksitas struktural SC(PN₁) = 23 dengan dua transisi bottleneck bersifat stokastik tinggi, sementara PN₂ mereduksi kompleksitas menjadi SC(PN₂) = 15 tanpa bottleneck. Sistem RuangRasa yang diimplementasikan dalam arsitektur tiga modul — Modul Pembeli, Modul Penjual, dan Dasbor Admin — membuktikan sifat liveness dan boundedness Petri Net melalui eliminasi transisi stokastik. Utilisasi server berhasil diturunkan dari zona kritis 93,3% menjadi 60,0%, dengan reduksi waktu tunggu sebesar 95,2% dari 13,2 menit menjadi 0,64 menit. Penelitian ini berkontribusi pada penerapan Petri Net sebagai alat analisis proses bisnis layanan kantin institusional.
Copyrights © 2026