Latar Belakang: Tuberkulosis (TB) masih menjadi masalah kesehatan utama di Indonesia, dengan angka kejadian dan kematian yang tinggi. TB paru dapat menimbulkan berbagai komplikasi, salah satunya adalah bronkiektasis, akibat destruksi jaringan paru yang menetap dan inflamasi kronik. Laporan Kasus: Seorang laki-laki usia 60 tahun datang dengan keluhan sesak napas sejak tiga bulan terakhir dan batuk berdahak yang berlangsung selama enam bulan. Pasien juga mengalami keringat malam, penurunan berat badan, dan nafsu makan menurun. Pemeriksaan penunjang menunjukkan adanya anemia mikrositik hipokromik, trombositosis, dan rasio neutrofil limfosit tinggi. Hasil rontgen thoraks dan pemeriksaan TCM menunjukkan TB paru aktif disertai bronkiektasis anemia, dan efusi pleura dekstra. Hasil: Diagnosis ditegakkan sebagai TB paru terkonfirmasi secara bakteriologis dengan komplikasi bronkiektasis dan anemia. Faktor risiko utama pasien adalah riwayat merokok berat dan status gizi buruk. Penatalaksanaan dilakukan secara komprehensif, termasuk pemberian OAT 4 FDC, nebulisasi bronkodilator dan kortikosteroid, mukolitik, antibiotik empiris, proteksi lambung, serta dukungan nutrisi. Terapi bertujuan untuk eradikasi infeksi, mengontrol inflamasi, memperbaiki fungsi pernapasan, dan mencegah komplikasi lanjutan. Kesimpulan: Penegakan diagnosis dini dan pendekatan terapi multidisiplin penting untuk keberhasilan pengobatan TB paru dengan komplikasi bronkiektasis. Kombinasi terapi definitif dan suportif menjadi kunci dalam pemulihan klinis pasien dan pencegahan progresivitas penyakit.
Copyrights © 2026