Penafsiran “Bintang Timur” (hêlēl ben-šaḥar) dalam Yesaya 14:12–15 terus diperdebatkan karena makna literal-historisnya sebagai raja Babel kemudian berkembang menjadi identifikasi Lucifer dengan malaikat yang jatuh dalam tradisi Kristen. Penelitian ini bertujuan merekonstruksi makna asli istilah tersebut dan menganalisis pembentukan makna teologisnya dalam sejarah penafsiran Kristen. Penelitian kualitatif berbasis studi kepustakaan ini menggunakan pendekatan historis-gramatikal dan historis-teologis terhadap data linguistik Ibrani, konteks sastra dan politik kitab Yesaya, mitologi Timur Dekat Kuno, terjemahan Septuaginta dan Vulgata, serta tafsir patristik dan angelologi. Hasil penelitian menemukan bahwa hêlēl ben-šaḥar mula-mula berfungsi sebagai metafora puitis-politis bagi raja Babel yang angkuh dan akhirnya direndahkan. Pengaitan istilah itu dengan Lucifer terbentuk secara bertahap melalui sejarah penerjemahan serta resepsi tipologis-alegoris, bukan berasal langsung dari maksud penulis Yesaya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tafsir literal dan teologis dapat dipadukan hanya dengan membedakan tingkat hermeneutisnya: makna literal menjaga integritas historis teks, sedangkan makna teologis merekam penerimaannya dalam tradisi Kristen. Pembedaan tersebut menawarkan kerangka penafsiran yang lebih bertanggung jawab bagi kajian hermeneutika Alkitab, angelologi, dan sejarah interpretasi Kristen.
Copyrights © 2026