Kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) umumnya berfokus pada ibadah mahdhah harian dan pembentukan karakter vokasional, sehingga materi fikih insidental seperti shalat gerhana seringkali direduksi menjadi hafalan kognitif tanpa simulasi praktis. Pengabdian ini bertujuan merekonstruksi pemahaman kognitif, melatih keterampilan psikomotorik (tata cara shalat dan khutbah), serta mengaktivasi modal sosial siswa sebagai agen penggerak (peer-educator). Metode yang digunakan adalah Asset-Based Community Development (ABCD) melalui siklus 5D (Discovery, Dream, Design, Define, Destiny) dengan memaksimalkan aset sekolah, utamanya anggota Ekstrakurikuler Kerohanian Islam (Rohis). Kegiatan workshop dan simulasi ini dilaksanakan di SMK Grafika Pringsewu dan dievaluasi menggunakan mixed-methods sederhana. Hasil pengujian menunjukkan peningkatan pemahaman yang signifikan dengan rata-rata skor N-Gain keseluruhan sebesar 0.75 (kategori Tinggi). Peningkatan paling tajam terjadi pada penguasaan tata cara dan rukun shalat (N-Gain 0.84), diikuti pemahaman integrasi sains-fikih (N-Gain 0.72), dan praktik khutbah gerhana (N-Gain 0.68). Kegiatan ini berhasil mengkapitalisasi aset sekolah dan mencetak kader "Khatib Remaja" untuk pelaksanaan ibadah insidental di lingkungan SMK Grafika Pringsewu.
Copyrights © 2026