Literatur pemekaran daerah di Indonesia umumnya menyimpulkan bahwa daerah induk lebih mandiri secara fiskal daripada daerah hasil pemekarannya, kesimpulan yang hampir selalu ditarik dari perbandingan agregat antarkelompok. Artikel ini menguji apakah keunggulan tersebut berlaku universal dengan desain uji beda berpasangan Mann-Whitney U pada lima pasangan resmi induk–pemekaran di Provinsi Jambi periode 2016–2025 (N=110), dilengkapi Random Effect Model dengan White Period Standard Errors serta estimasi System GMM sebagai pemeriksaan robustness. Hasil agregat mengkonfirmasi keunggulan daerah induk (p=0,0014); namun uji berpasangan mengungkap heterogenitas yang substansial: tiga pasangan konsisten dengan dugaan klasik, satu pasangan setara, dan satu pasangan terbalik secara signifikan, Kota Sungai Penuh sebagai daerah pemekaran justru mengungguli induknya, Kabupaten Kerinci (p=0,0140). Dalam kerangka regresi, dummy status pemekaran kehilangan signifikansinya setelah PDRB per kapita harga berlaku, jumlah penduduk, investasi, dan kemiskinan dikontrol, mengindikasikan bahwa status pemekaran bekerja melalui jalur mediasi kondisi makroekonomi. Temuan ini menunjukkan bahwa dampak fiskal pemekaran ditentukan oleh konfigurasi spasial basis ekonomi pasca-pemisahan wilayah, bukan oleh status formal semata, sehingga evaluasi dan pendampingan fiskal perlu dirancang per kasus
Copyrights © 2025