Temuan arkeologi pangkalan angkatan laut era Kekaisaran Parthia di Minab, Provinsi Hormozgan, Iran, memberikan perspektif baru mengenai perkembangan strategi geopolitik maritim pada masa kuno. Penelitian ini bertujuan menganalisis persamaan dan perbedaan strategi maritim Parthia, Sriwijaya, dan Majapahit melalui pendekatan sejarah komparatif dalam konteks Jalur Sutra Maritim. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan memadukan pendekatan sejarah komparatif, geografi militer, dan analisis multidisipliner terhadap sumber arkeologis, epigrafis, tekstual, serta literatur sejarah maritim. Analisis difokuskan pada tiga variabel utama, yaitu penguasaan maritime chokepoint, fungsi pangkalan laut sebagai instrumen geopolitik, dan hubungan antara kekuatan ekonomi dengan perlindungan militer di laut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga peradaban mengembangkan infrastruktur maritim di lokasi strategis untuk mengendalikan jalur perdagangan, memproyeksikan kekuatan militer, dan mendukung stabilitas ekonomi melalui pengawasan pelayaran serta fungsi fiskal. Meskipun memiliki model kekuasaan yang berbeda—Parthia berorientasi pada pertahanan pesisir, Sriwijaya menerapkan sistem thalassocracy, dan Majapahit mengintegrasikan kekuatan agraris dan maritim—ketiganya memperlihatkan pola geopolitik yang serupa dalam pemanfaatan pangkalan laut sebagai instrumen negara. Penelitian ini menegaskan bahwa pembangunan pangkalan laut merupakan bagian dari tradisi geopolitik maritim yang telah berkembang sejak lebih dari dua milenium serta memberikan kerangka konseptual bagi pengembangan kajian arkeologi pertahanan maritim di Indonesia.
Copyrights © 2026