Artikel ini mengkaji peran media sosial dalam membentuk toleransi dan polarisasi beragama di kalangan generasi muda Muslim Indonesia. Penelitian ini bertujuan menganalisis mekanisme polarisasi digital, pergeseran otoritas keagamaan di ruang daring, serta transformasi wacana pluralisme di kalangan generasi muda. Penelitian menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research) dengan menganalisis artikel ilmiah mutakhir, laporan resmi, dan buku akademik terkait keberagamaan digital, algoritma media sosial, dan moderasi beragama yang terbit pada periode 2020–2025. Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan utama. Pertama, polarisasi keagamaan terjadi melalui mekanisme filter bubble, echo chamber, dan intervensi algoritma yang mempersempit paparan terhadap sudut pandang berbeda. Kedua, terjadi pergeseran otoritas keagamaan menuju sumber berbasis algoritma yang melahirkan fenomena algorithmic religion dan santri without pesantren. Ketiga, terdapat kontradiksi antara tingginya indeks toleransi dalam survei formal dengan meningkatnya intoleransi dalam wacana digital. Temuan ini mengimplikasikan pentingnya penguatan literasi digital kritis, revitalisasi otoritas keagamaan di ruang digital, serta kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat toleransi beragama di era digital.
Copyrights © 2026