Penelitian ini membahas representasi hibriditas dalam novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer dan keterkaitannya dengan praktik sosial masyarakat Indonesia modern. Kolonialisme dalam novel menghadirkan identitas hybrid melalui bahasa, pola pikir, spiritualitas, teknologi, busana, dan seni, yang menunjukkan bagaimana nilai budaya barat dan lokal saling bertemu menciptakan hibriditas. Meski kolonialisme telah lama berakhir, fenomena serupa tetap muncul dalam masyarakat Indonesia melalui penggunaan bahasa asing, konsumsi budaya populer, estetika kecantikan global, tren fashion daring, hingga pola komunikasi digital. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik dokumentasi dan studi literatur. Data utama diperoleh dari kutipan novel, sedangkan data pendukung berasal dari fenomena digital seperti berita, TikTok, Instagram, dan media daring yang mencerminkan praktik hibriditas masa kini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hibriditas pada masa kolonial bersifat struktural dan seringkali lahir dari tekanan kuasa kolonial, sementara hibriditas modern muncul sebagai pilihan dan bentuk adaptasi masyarakat terhadap arus globalisasi. Perbandingan keduanya memperlihatkan kesinambungan historis bahwa identitas Indonesia tidak pernah statis, melainkan selalu berada dalam proses pembentukan melalui percampuran nilai lokal dan budaya global. Simpulan penelitian menegaskan bahwa warisan kolonial masih hidup dalam bentuk baru, membentuk cara masyarakat Indonesia memandang diri, budaya, dan modernitas.
Copyrights © 2026