Penelitian ini bertujuan menganalisis konstruksi bahasa, relasi kekuasaan, dan ideologi dalam pemberitaan mengenai kesiapan Presiden Indonesia menjadi mediator konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran pada media detikNews. Pemberitaan tersebut menyampaikan bahwa pemerintah Indonesia menyatakan kesiapan untuk memfasilitasi dialog dan Presiden bersedia bertolak ke Teheran apabila disetujui pihak terkait sebagai upaya menciptakan kondisi keamanan yang kondusif. Di sisi lain, pemberitaan juga menampilkan pernyataan tokoh nasional yang memperingatkan bahwa konflik tersebut sangat kompleks, dipengaruhi ketimpangan kekuatan global, serta berpotensi berdampak pada ekonomi Indonesia, termasuk kenaikan harga minyak dan gangguan logistik perdagangan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode analisis wacana kritis Roger Fowler yang berfokus pada analisis kosakata, struktur transitivitas, nominalisasi, dan modalitas dalam teks berita. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pilihan bahasa media membangun representasi Indonesia sebagai aktor diplomasi perdamaian yang aktif, namun secara simultan menampilkan keterbatasan kekuasaan melalui penggunaan modalitas bersyarat dan representasi ketimpangan geopolitik. Dengan demikian, bahasa media tidak hanya berfungsi sebagai sarana penyampaian informasi, tetapi juga sebagai instrumen ideologis yang membentuk persepsi publik mengenai posisi politik Indonesia dalam konflik internasional.
Copyrights © 2026