Pemanfaatan pandan duri gunung (Pandanus furcatus) sebagai bahan baku anyaman di Dusun Citapen Landeuh, Desa Sukajaya, Kabupaten Ciamis, selama beberapa dekade hanya menghasilkan tikar bernilai ekonomi rendah dengan pasar sempit, sehingga jumlah pengrajin menyusut hingga tersisa enam orang berusia lanjut dan fungsi ekologis pandan sebagai penahan lereng di kawasan rawan longsor pun melemah. Penelitian ini mengkaji inovasi daerah “PandanCraft Naik Kelas” sebagai model kolaborasi multipihak yang memadukan konservasi lingkungan dengan penguatan ekonomi sirkular berbasis kearifan lokal. Kajian menggunakan pendekatan kualitatif berdesain studi kasus, ditopang identifikasi partisipatif, diskusi kelompok terarah, observasi lapangan, wawancara mendalam, dan penelaahan dokumen program sepanjang 2020–2026. Temuan menunjukkan bahwa kolaborasi pentahelix yang menghimpun masyarakat, pemerintah desa dan kecamatan, forum pengelolaan daerah aliran sungai, sektor usaha, serta akademisi berhasil mendiversifikasi produk anyaman menjadi lebih dari dua belas varian, menaikkan jumlah pengrajin dari enam menjadi tujuh puluh dua orang, memperluas pasar lewat digitalisasi, dan menghidupkan kembali praktik pemanenan lestari. Keberhasilan ini sangat ditentukan oleh sinergi kolaborasi pentahelix antara masyarakat, pemerintah, sektor usaha, dan akademisi, dengan forum koordinasi pengelolaan daerah aliran sungai berperan sebagai lembaga penjembatan yang menyelaraskan kepentingan ekologis dan ekonomi melalui kerangka tata kelola kolaboratif (Collaborative Governance). Penelitian ini menegaskan pentingnya kehadiran lembaga penghubung lintas sektor bagi keberlanjutan inovasi berbasis sumber daya lokal di wilayah rawan bencana Kata Kunci : Ekonomi Sirkular; Inovasi Daerah; Kearifan Lokal; Kolaborasi Pentahelix; Konservasi.
Copyrights © 2026