Latar Belakang: Penggunaan MKJP di Indonesia masih rendah akibat keterbatasan pengetahuan, mitos efek samping, minimnya dukungan suami, dan mutu konseling yang belum optimal. Kondisi ini juga terjadi di UPTD Puskesmas Sukarami Palembang, di mana cakupan MKJP WUS hanya 10,8% (di bawah rata-rata kota 12–20%) meskipun fasilitas dan tenaga terlatih telah tersedia. Tujuan: Menganalisis penggunaan MKJP dan faktor-faktor yang berhubungan pada WUS di wilayah kerja UPTD Puskesmas Sukarami Kota Palembang Tahun 2026. Metode: Penelitian survei analitik observasional dengan desain cross-sectional di Puskesmas Sukarami Palembang bulan Maret sampai Mei 2026. Sampel 96 WUS peserta KB aktif dipilih secara purposive sampling kriteria inklusi WUS berusia 15–49 tahun, berdomisili di wilayah kerja Puskesmas Sukarami, sedang menggunakan metode kontrasepsi, bersedia menandatangani informed consent. Data dikumpulkan kuesioner terstruktur dan dianalisis secara univariat, bivariat (uji Chi-Square), serta multivariat (regresi logistik biner). Hasil: 21,9% responden menggunakan MKJP. Analisis bivariat berhubungan bermakna adalah pendidikan (p=0,048), paritas (p=0,003), pengetahuan (p=0,001), dukungan suami (p=0,013), dan mutu layanan KB (p<0,001), sedangkan pekerjaan (p=0,130) dan sikap (p=0,840) tidak berhubungan. Analisis multivariat menetapkan pengetahuan sebagai faktor paling dominan (aOR=7,31; 95% CI 1,67–32,08), diikuti dukungan suami, mutu layanan, dan pendidikan; model akhir menjelaskan 44,9% variasi penggunaan MKJP dengan ketepatan klasifikasi 84,4%. Saran: Bagi Puskesmas disarankan memperkuat edukasi dan konseling KB komprehensif oleh bidan Poli KIA-KB, meningkatkan mutu layanan sesuai enam elemen mutu, serta melibatkan suami dalam konseling KB pasangan.Kata Kunci: MKJP, Wanita Usia Subur, Pengetahuan, Dukungan Suami, Mutu Layanan
Copyrights © 2026