Jurnal Sylva Scienteae
Vol 9, No 4 (2026): Jurnal Sylva Scienteae Vol 9 No 4 Edisi Agustus 2026

ANALISIS SMART AGROFORESTRY PADA LAHAN KERING DI DESA KAYANGAN, LOMBOK UTARA, NUSA TENGGARA BARAT SMART AGROFORESTRY ANALYSIS ON DRY LAND IN KAYANGAN VILLAGE, NORTH LOMBOK, WEST NUSA TENGGARA

Endah Wahyuningsih (Mataram University)
Maiser Syaputra (Mataram University)
Pande Komang Suparyana (Mataram University)
Andi Tri Lestari (Mataram University)



Article Info

Publish Date
31 Aug 2026

Abstract

ABSTRACT. Agroforestry is a land management system that has the potential to improve food security and farmers' income on dry land in West Nusa Tenggara. This study aimed to identify farming orientation, analyze plant species composition, and examine the climate resilience mechanism of agroforestry systems in Kayangan Village, North Lombok Regency. The method used was a census of 25 agroforestry farmers through interviews and plant species inventory. Data were analyzed descriptively, by frequency, and Spearman correlation. The results showed that 100% of farmers applied a semi-commercial system by planting an average of 25 ± 6 plant species per 0.5 Ha. 21 core species were found, with 5 species at 100%, namely Cashew (Anacardium occidentale), Coconut (Cocos nucifera), Mango (Mangifera indica), Corn (Zea mays), and Peanut (Arachis hypogaea) Bantenan (Lannea coromandelica) had a frequency of 96% as an ecological fence. This system has a 6-Layer Buffer structure consisting of quick food, reserve, spices, quick cash, savings, and liquid assets. A total of 16% of farmers have implemented Trigona sp beekeeping and Nila fish (Oreochromis niloticus) culture. Conclusion, Kayangan agroforestry is a smart model proven to be resilient to 8-10 months of long dry season. The implication of this study is the need for a 3-mandatory-pillars policy of Bantenan, NTF, and Cashew to strengthen dryland agroforestry in NTB.Keywords: Smart agroforestry;  Food security; Climate Resilience; Dry Land; NLR ABSTRAK. Agroforestri merupakan sistem pengelolaan lahan yang berpotensi meningkatkan ketahanan pangan dan pendapatan petani di lahan kering Nusa Tenggara Barat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi orientasi usahatani, menganalisis komposisi jenis tanaman, dan mengkaji mekanisme ketahanan iklim sistem agroforestri di Desa Kayangan, Kabupaten Lombok Utara. Metode yang digunakan adalah sensus terhadap 25 petani agroforestry dengan wawancara dan inventarisasi jenis tanaman. Data dianalisis secara deskriptif, frekuensi, dan korelasi Spearman. Hasil menunjukkan 100% petani menerapkan sistem semi-komersial dengan menanam rata-rata dari 25 responden sebesar  ±6 jenis tanaman per 0,5 ha. Ditemukan 21 jenis utama dengan 5 jenis 100% yaitu mete (Anacardium occidentale), kelapa (Cocos nucifera), mangga (Mangifera indica), jagung (Zea mays), dan kacang tanah (Arachis hypogaea). Spesies bantenan (Lannea coromandelica) memiliki frekuensi 96% sebagai tanaman pagar ekologi. Sistem ini memiliki struktur 6 strata penyangga yang terdiri dari pangan cepat, cadangan, rempah, uang cepat, tabungan, dan aset likuid. Sebanyak 16% petani telah menerapkan budidaya Trigona sp. dan ikan nila (Oreochromis niloticus). Kesimpulan: agroforestry Desa Kayangan merupakan model smart yang terbukti tahan terhadap kemarau panjang 8-10 bulan. Implikasi penelitian ini adalah perlunya kebijakan 3 pilar wajib, yaitu bantenan, HHBK, dan mete untuk penguatan agroforestri lahan kering NTB.Kata kunci: Smart agroforestry; ketahanan pangan; lahan kering; perubahan iklim; KLU

Copyrights © 2026






Journal Info

Abbrev

jss

Publisher

Subject

Agriculture, Biological Sciences & Forestry Environmental Science

Description

Jurnal Sylva Scienteae merupakan jurnal yang mempublikasikan hasil penelitian di bidang kehutanan, meliputi Teknologi Hasil Hutan, Manajemen Hutan, Budidaya Hutan, dan Konservasi Hutan. Jurnal ini diterbitkan oleh Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat. Terbit pertama kali di bulan Agustus ...