Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENGAYAAN TANAMAN PAKAN LEBAH DENGAN POLA AGROFORESTRY HOME GARDEN UNTUK MENDUKUNG KELESTARIAN SUMBER PAKAN LEBAH MADU TRIGONA Endah Wahyuningsih; Andi Tri Lestari; Maiser Syaputra; Febriana Tri Wulandari; Hairil Anwar; Januardi Januardi; I Putu Angga Teja Maya; Dita Anggraini; GB Daril Rama Aditia; Abdul Muin
Jurnal Pendidikan dan Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 4 (2021): November
Publisher : FKIP Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (226.338 KB) | DOI: 10.29303/jppm.v4i4.3145

Abstract

Pengembangan budidaya lebah madu trigona yang dilakukan masyarakat Desa Pendua kebanyakan masih berskala rumah tangga. Sumber pakan trigona didapatkan dari tanaman pekarangan (home garden) di sekitar tempat tinggal. Peran home garden dalam mendukung ketersediaan sumber pakan lebah trigona sangat besar, karena sangat memengaruhi hasil produksi madu. Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang jenis-jenis tumbuhan yang potensi sebagai sumber pakan lebah trigona yaitu jenis tanaman yang menghasilkan nektar, polen dan resin, juga menjadi salah satu kendala pengembangan budidaya lebah trigona, sehingga belum memenuhi kecukupan sumber pakannya. Tujuan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yaitu penyuluhan tentang upaya pelestarian pakan trigona melalui pengayaan jenis-jenis tanaman sumber pakan trigona, sehingga terjaminnya sumber pakan sepanjang musim dan penataan sumber pakan lebah trigona dengan pola agroforestri home garden yaitu mengkombinasikan tanaman buah-buahan, dan tanaman berbunga. Hasil kegiatan pengabdian adalah melakukan pengayaan jenis tanaman sumber pakan trigona, penghasil nektar, polen dan resin yang meliputi tanaman tahunan (buah-buahan) dan tanaman berbunga, sebanyak 10 jenis sumber pakan. Sebelum dilakukan pengayaan sumber pakan yang tersedia hanya 6 jenis tanaman buah-buahan yaitu pohon kelengkeng, rambutan, mangga, jambu air dan pohon anggur, sehingga belum memenuhi ketersediaan pakan sepanjang tahun. Jenis tanaman tahunan (buah-buahan) untuk pengayaan sumber pakan trigona penghasil nektar, polen dan resin yaitu mangga (Mangifera indica), durian (Durio zibethinus), jeruk (Citrus reticulata),  Delima (Punica granatum), Cempedak (Artocarpus integer) dan kelengkeng (Dimocarpus longan). Jenis anaman bunga untuk sumber pakan trigona penghasil nektar, dan polen yaitu air mata pengantin (Antigonon leptopus), sikat botol (Callistemon viminalis), bunga matahari (Helianthus annuus), dan widelia (Sphagneticola trilobata). Pengayaan sumber pakan trigona dengan pola agroforestri home garden telah memenuhi ketersediaan pakan trigona, karena jenis untuk pengayaan sebagai sumber pakan terpilih adalah tanaman potensial penghasil nektar, polen dan resin.
ANALISIS SMART AGROFORESTRY PADA LAHAN KERING DI DESA KAYANGAN, LOMBOK UTARA, NUSA TENGGARA BARAT SMART AGROFORESTRY ANALYSIS ON DRY LAND IN KAYANGAN VILLAGE, NORTH LOMBOK, WEST NUSA TENGGARA Endah Wahyuningsih; Maiser Syaputra; Pande Komang Suparyana; Andi Tri Lestari
Jurnal Sylva Scienteae Vol 9, No 4 (2026): Jurnal Sylva Scienteae Vol 9 No 4 Edisi Agustus 2026
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v9i4.19801

Abstract

ABSTRACT. Agroforestry is a land management system that has the potential to improve food security and farmers' income on dry land in West Nusa Tenggara. This study aimed to identify farming orientation, analyze plant species composition, and examine the climate resilience mechanism of agroforestry systems in Kayangan Village, North Lombok Regency. The method used was a census of 25 agroforestry farmers through interviews and plant species inventory. Data were analyzed descriptively, by frequency, and Spearman correlation. The results showed that 100% of farmers applied a semi-commercial system by planting an average of 25 ± 6 plant species per 0.5 Ha. 21 core species were found, with 5 species at 100%, namely Cashew (Anacardium occidentale), Coconut (Cocos nucifera), Mango (Mangifera indica), Corn (Zea mays), and Peanut (Arachis hypogaea) Bantenan (Lannea coromandelica) had a frequency of 96% as an ecological fence. This system has a 6-Layer Buffer structure consisting of quick food, reserve, spices, quick cash, savings, and liquid assets. A total of 16% of farmers have implemented Trigona sp beekeeping and Nila fish (Oreochromis niloticus) culture. Conclusion, Kayangan agroforestry is a smart model proven to be resilient to 8-10 months of long dry season. The implication of this study is the need for a 3-mandatory-pillars policy of Bantenan, NTF, and Cashew to strengthen dryland agroforestry in NTB.Keywords: Smart agroforestry;  Food security; Climate Resilience; Dry Land; NLR ABSTRAK. Agroforestri merupakan sistem pengelolaan lahan yang berpotensi meningkatkan ketahanan pangan dan pendapatan petani di lahan kering Nusa Tenggara Barat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi orientasi usahatani, menganalisis komposisi jenis tanaman, dan mengkaji mekanisme ketahanan iklim sistem agroforestri di Desa Kayangan, Kabupaten Lombok Utara. Metode yang digunakan adalah sensus terhadap 25 petani agroforestry dengan wawancara dan inventarisasi jenis tanaman. Data dianalisis secara deskriptif, frekuensi, dan korelasi Spearman. Hasil menunjukkan 100% petani menerapkan sistem semi-komersial dengan menanam rata-rata dari 25 responden sebesar  ±6 jenis tanaman per 0,5 ha. Ditemukan 21 jenis utama dengan 5 jenis 100% yaitu mete (Anacardium occidentale), kelapa (Cocos nucifera), mangga (Mangifera indica), jagung (Zea mays), dan kacang tanah (Arachis hypogaea). Spesies bantenan (Lannea coromandelica) memiliki frekuensi 96% sebagai tanaman pagar ekologi. Sistem ini memiliki struktur 6 strata penyangga yang terdiri dari pangan cepat, cadangan, rempah, uang cepat, tabungan, dan aset likuid. Sebanyak 16% petani telah menerapkan budidaya Trigona sp. dan ikan nila (Oreochromis niloticus). Kesimpulan: agroforestry Desa Kayangan merupakan model smart yang terbukti tahan terhadap kemarau panjang 8-10 bulan. Implikasi penelitian ini adalah perlunya kebijakan 3 pilar wajib, yaitu bantenan, HHBK, dan mete untuk penguatan agroforestri lahan kering NTB.Kata kunci: Smart agroforestry; ketahanan pangan; lahan kering; perubahan iklim; KLU