Penelitian ini mengkaji bagaimana anggota komunitas di kawasan wisata Senggigi, Lombok Barat, menegosiasikan bahasa dan budaya dalam interaksi pariwisata multikultural. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus, penelitian ini melibatkan 24 partisipan yang terdiri atas pedagang lokal, pemandu wisata, staf hotel, dan pelajar bahasa Inggris. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi partisipan, dan pencatatan lapangan selama enam bulan. Temuan menunjukkan bahwa partisipan secara aktif mengembangkan strategi komunikasi lintas budaya, termasuk code-switching, simplifikasi bahasa, dan penggunaan isyarat nonverbal. Pengalaman interkultural terbukti mendorong motivasi belajar bahasa Inggris secara organik dan kontekstual. Tantangan utama yang muncul meliputi hambatan linguistik, kesenjangan budaya, dan keterbatasan akses terhadap pembelajaran formal. Penelitian ini menyimpulkan bahwa konteks pariwisata multikultural dapat berfungsi sebagai ruang pembelajaran bahasa yang autentik dan efektif bagi masyarakat lokal.
Copyrights © 2026