Penelitian ini membahas legitimasi kepemimpinan perempuan di ruang politik melalui studi kasus Sherly Tjoanda sebagai Gubernur Maluku Utara. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerimaan masyarakat terhadap kepemimpinan Sherly Tjoanda serta melihat bagaimana legitimasi kepemimpinannya terbentuk sebagai perempuan di tengah lingkungan politik yang masih dipengaruhi oleh budaya patriarki. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara dengan lima masyarakat Maluku Utara serta studi literatur yang meliputi dokumen resmi, artikel jurnal, buku, dan pemberitaan yang relevan. Analisis penelitian menggunakan konsep Interactive Leadership Judy B. Rosener (1990) yang menekankan komunikasi, partisipasi, kerja sama, dan hubungan antara pemimpin dengan masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerimaan masyarakat terhadap Sherly Tjoanda tidak semata-mata ditentukan oleh identitasnya sebagai perempuan, tetapi juga berkaitan dengan penilaian terhadap kemampuan, pengalaman, komunikasi, dan tanggung jawab kepemimpinannya. Legitimasi Sherly terbentuk melalui mandat elektoral sekaligus diperkuat oleh penerimaan dan kepercayaan masyarakat. Dengan demikian, kasus Sherly Tjoanda menunjukkan bahwa perempuan memiliki peluang memperoleh legitimasi politik ketika mampu memperoleh dukungan, membangun kepercayaan, dan menjalankan kepemimpinan yang dapat diterima oleh masyarakat. Kata kunci: legitimasi politik, kepemimpinan perempuan, interactive leadership, Sherly Tjoanda, Maluku Utara.
Copyrights © 2026