Pekerja batako merupakan kelompok pekerja sektor informal yang memiliki risiko tinggi mengalami penyakit kulit akibat kerja karena sering terpapar semen, pasir, debu, dan bahan iritan lainnya selama proses produksi. Rendahnya penggunaan alat pelindung diri (APD) serta belum optimalnya penerapan personal hygiene menjadi faktor yang meningkatkan risiko terjadinya penyakit kulit, sehingga diperlukan upaya promotif dan preventif melalui kegiatan pemberdayaan pekerja. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan perilaku pekerja batako dalam upaya pencegahan penyakit kulit akibat kerja di wilayah kerja Puskesmas X Tahun 2026. Metode yang digunakan meliputi survei lokasi, observasi, wawancara, pembagian kuesioner, edukasi secara door to door menggunakan media poster, pembagian sarung tangan sebagai APD, serta evaluasi secara deskriptif melalui observasi dan diskusi interaktif. Sasaran kegiatan berjumlah 40 pekerja batako. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa sebagian besar pekerja memiliki masa kerja lebih dari tiga bulan, bekerja lebih dari delapan jam per hari, serta belum menggunakan APD dan menerapkan personal hygiene secara konsisten. Setelah pelaksanaan edukasi, pekerja menunjukkan peningkatan pemahaman mengenai faktor risiko penyakit kulit, pentingnya penggunaan APD, dan penerapan personal hygiene sebagai langkah pencegahan. Hasil evaluasi menunjukkan rata-rata skor pengetahuan meningkat dari 6,00 ± 2,219 pada pretest menjadi 7,15 ± 1,777 pada posttest. Hasil uji Paired Sample t-test menunjukkan terdapat peningkatan pengetahuan yang signifikan (p < 0,001). Kegiatan ini membuktikan bahwa pemberdayaan melalui edukasi kesehatan dan penyediaan APD merupakan strategi yang efektif dalam meningkatkan perilaku pencegahan penyakit kulit akibat kerja serta mendukung upaya peningkatan kesehatan kerja pada pekerja sektor informal.
Copyrights © 2026