Budaya mutu menjadi isu strategis bagi madrasah dan pesantren karena tuntutan peningkatan kualitas pendidikan kini tidak hanya berkaitan dengan capaian akademik, tetapi juga karakter, layanan, akuntabilitas, identitas keislaman, dan keberlanjutan lembaga. Artikel ini bertujuan menganalisis bagaimana budaya mutu dibangun dan dioperasionalkan pada madrasah dan pesantren serta merumuskan sintesis konseptual yang menghubungkan nilai keislaman, prinsip Total Quality Management (TQM), kepemimpinan, budaya akademik, dan perbaikan berkelanjutan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode *library research*. Penelusuran literatur dilakukan melalui Google Scholar, Garuda, dan laman jurnal dengan kata kunci “budaya mutu”, “quality culture”, “Total Quality Management”, “madrasah”, “pesantren”, “quality assurance”, dan “Islamic education”. Dari literatur yang ditelusuri, 20 sumber dipilih sebagai korpus analisis berdasarkan relevansi, keterlacakan metadata, kualitas penerbitan, dan keterbaruan; sumber duplikat, nonilmiah, dan tidak relevan dikeluarkan. Analisis dilakukan melalui reduksi, kategorisasi tematik, perbandingan lintas-sumber, dan sintesis interpretatif. Hasil kajian menunjukkan bahwa budaya mutu pada lembaga pendidikan Islam terbentuk melalui keterhubungan lima unsur: kepemimpinan berbasis nilai, keterlibatan seluruh warga lembaga, budaya akademik, pembiasaan adab-akhlak dan keteladanan, serta siklus evaluasi dan perbaikan berkelanjutan. Madrasah cenderung lebih kuat pada standardisasi, penjaminan mutu, dan akuntabilitas formal, sedangkan pesantren menonjolkan kultur kepemimpinan kiai, kedisiplinan, keteladanan, dan integrasi nilai kepesantrenan. Sintesis ini menegaskan bahwa keunggulan berkelanjutan tidak lahir dari pemenuhan standar semata, tetapi dari pelembagaan nilai mutu ke dalam rutinitas dan pengambilan keputusan.
Copyrights © 2026