Penelitian konseptual ini mengkaji batas antara efektivitas dan kontraproduktivitas pesan kelangkaan (scarcity messaging) dalam pemasaran digital melalui kerangka Teori Reaktansi Psikologis. Pesan kelangkaan telah menjadi elemen lazim dalam ekosistem perdagangan elektronik modern. Namun, bukti yang berkembang menunjukkan bahwa ketika konsumen mempersepsikan pesan tersebut sebagai manipulatif atau ancaman terhadap kebebasan memilih, reaktansi psikologis muncul dan menghasilkan resistensi, bukan kepatuhan yang diharapkan pemasar. Dengan mensintesis Teori Reaktansi Brehm (1966), Prinsip Kelangkaan Cialdini, dan literatur psikologi konsumen kontemporer, penelitian ini membangun kerangka konseptual yang mengidentifikasi kondisi-kondisi di mana pesan kelangkaan menghasilkan kepatuhan versus resistensi konsumen. Variabel moderasi utama mencakup kredibilitas pesan, persepsi ancaman otonomi, keterlibatan konsumen, dan kepercayaan merek sebelumnya. Kerangka ini juga membedakan kelangkaan nyata dari kelangkaan artifisial, dengan argumen bahwa taktik artifisial jauh lebih rentan memicu reaktansi, khususnya pada konsumen yang melek digital. Implikasi dibahas dalam konteks praktik pemasaran etis di ekosistem perdagangan digital Indonesia, dengan relevansi khusus pada platform Tokopedia, Shopee, dan TikTok Shop, sekaligus memberikan landasan bagi penelitian empiris lanjutan.
Copyrights © 2025