Relasi merupakan dimensi fundamental dalam keberadaan manusia karena melalui relasi manusia membentuk identitas, kesadaran, serta pemaknaan terhadap dirinya dan dunia. Namun, relasi manusia tidak selalu menghadirkan keharmonisan, melainkan juga dapat menjadi sumber konflik, keterasingan, dan kehancuran eksistensial. Penelitian ini bertujuan untuk merefleksikan keberadaan manusia dalam relasi melalui perspektif filsafat eksistensial, khususnya konsep keterlemparan (Geworfenheit) Martin Heidegger. Manusia dipahami sebagai makhluk yang hadir dalam dunia tanpa terlebih dahulu memilih keberadaannya, tetapi harus menghadapi berbagai kondisi, aturan, bahasa, budaya, dan pengalaman yang telah tersedia sebelumnya. Melalui relasi, manusia menemukan kemungkinan untuk membangun makna hidup, tetapi sekaligus menghadapi keterbatasan dan dilema keberadaannya. Kerusakan relasi yang ditandai oleh hilangnya kepercayaan, kesombongan, kepalsuan, dan ketidakmampuan memahami orang lain menunjukkan bahwa eksistensi manusia selalu berada dalam pergulatan. Artikel ini menunjukkan bahwa keterlemparan bukan sekadar kondisi keterbatasan manusia, melainkan titik awal bagi manusia untuk menyadari keberadaan dirinya dan memberi makna terhadap kehidupannya melalui pilihan, tanggung jawab, dan relasi yang autentik. Kajian ini disusun dengan metode studi kepustakaan (library research) melalui pendekatan filosofis-reflektif atas sumber primer dan sekunder mengenai pemikiran eksistensial Martin Heidegger. Secara implikatif, hasil kajian ini menegaskan bahwa kesadaran akan keterlemparan dapat menjadi landasan etis bagi pembentukan relasi sosial yang lebih manusiawi, khususnya di tengah masyarakat kontemporer yang rentan terhadap keterasingan dan kerapuhan kepercayaan.
Copyrights © 2026