Kemunculan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah menghadirkan tantangan epistemologis yang fundamental bagi tradisi keilmuan Islam, khususnya dalam domain pembelajaran hadis. Artikel ini mengkaji secara kritis bagaimana pergeseran paradigma dari model transmisi pengetahuan berbasis otoritas personal yang direpresentasikan oleh sistem sanad menuju model algoritma berbasis data telah memicu apa disebut sebagai “krisis epistemologi” dalam studi hadis kontemporer. Melalui pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan dan analisis kritis-komparatif, penelitian ini mengidentifikasi tiga dimensi krisis yang saling berkelindan. Pertama, erosi konsep otoritas dalam transmisi pengetahuan hadis. Kedua, transformasi pola belajar dari tatsabbut (verifikasi ketat dan kehati-hatian) menuju budaya instanitas yang dieksaserbasi oleh kemudahan akses digital. Ketiga, reduksi validitas epistemologis pengetahuan keislaman ketika saringan sanad digantikan oleh filter algoritmik yang tidak memiliki kapasitas pertimbangan moral dan kontekstual. Penelitian ini menemukan bahwa AI, meski menawarkan efisiensi akses dan pengolahan data hadis yang belum pernah ada sebelumnya, secara inheren tidak mampu mereplikasi fungsi epistemologis sanad yang bersifat normatif, personal, dan berkesinambungan. Sebagai kontribusi kebaruan, artikel ini mengusulkan kerangka pedagogi hadis integratif yang memosisikan AI sebagai instrumen bantu tanpa mengorbankan integritas epistemologi sanad. Rekonstruksi ini mensyaratkan reformulasi kurikulum, pelatihan literasi digital berbasis kritik epistemologis, dan pemeliharaan tradisi talaqqi dalam ekosistem pembelajaran yang merespons realitas digital.
Copyrights © 2026