Diabetes melitus tipe 2 dapat menimbulkan komplikasi mikrovaskular dan neuropatik, termasuk gangguan pendengaran. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan kadar HbA1c dan durasi diabetes melitus tipe 2 dengan derajat gangguan pendengaran pada pasien dewasa. Data yang dianalisis merupakan data simulasi 40 pasien berusia 30–60 tahun di Rumah Sakit Royal Prima Medan. Derajat gangguan pendengaran dinilai dengan pure tone audiometry (PTA), sedangkan hubungan antarvariabel dianalisis menggunakan uji Spearman dan Chi-Square. Rerata HbA1c sebesar 8,72% dan rerata durasi diabetes 12,00 tahun. Gangguan pendengaran terbanyak berderajat sedang (52,5%). HbA1c berhubungan positif sangat kuat dengan derajat gangguan pendengaran (rho = 0,881; p < 0,001), sedangkan durasi diabetes menunjukkan hubungan positif kuat (rho = 0,707; p < 0,001). Kadar gula darah dan paparan bising juga berhubungan bermakna. Disimpulkan bahwa kontrol glikemik yang buruk dan durasi diabetes yang lebih lama berkaitan dengan gangguan pendengaran yang lebih berat. Skrining pendengaran berkala perlu dipertimbangkan, terutama pada pasien berisiko tinggi.
Copyrights © 2026