Kabhanti Gambusu Wuna merupakan sastra lisan masyarakat Muna yang disampaikan melalui pantun berbalas dengan iringan gambus dan hadir dalam situasi pertunjukan sosial. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan makna denotatif, konotatif, dan mitos budaya dalam tuturan Kabhanti Gambusu Wuna berdasarkan semiotika Roland Barthes. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif. Data utama berupa tuturan kabhanti pada bagian pembuka, inti, dan penutup pertunjukan, sedangkan wawancara dan dokumentasi digunakan untuk menjelaskan konteks tuturan. Data yang tercatat dalam naskah dikumpulkan pada 8 dan 10 Mei 2024. Analisis dilakukan dengan memisahkan teks asli, terjemahan, makna denotatif, makna konotatif, dan mitos atau nilai budaya yang dinaturalisasikan melalui tuturan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna Kabhanti Gambusu Wuna tidak berhenti pada arti literal. Konotasi yang menonjol mencakup penghormatan terhadap ajaran leluhur, kedekatan emosional, saling menghargai, etika bertutur, anjuran berbuat baik, pengendalian diri, dan solidaritas keluarga. Pada tingkat mitos budaya, tuturan meneguhkan gambaran tentang anggota masyarakat yang ideal, yaitu menghormati leluhur, menjaga hubungan, memilih tutur yang baik, dan menahan diri dari perilaku yang merusak. Makna tersebut terbentuk melalui hubungan antara bahasa dan konteks pertunjukan.
Copyrights © 2026