Hasil penelitian menunjukkan bahwa Mesin C memiliki tingkat reject tertinggi sebesar 4,05% dengan rata-rata reject 53.500 kg per bulan dan kerugian mencapai Rp3.945.000.000 per bulan. Analisis Diagram Pareto mengidentifikasi permen pecah sebagai jenis reject terbesar (53,72%), diikuti sambungan inner (46,28%). Analisis Root Cause Analysis (RCA) menunjukkan bahwa penyebab utama reject adalah penumpukan permen pada jalur produksi akibat sensor yang tidak mampu mendeteksi aliran permen secara optimal saat kecepatan mesin ditingkatkan untuk memenuhi target produksi. Sebagai solusi, diusulkan penerapan Poka-Yoke berbasis otomatisasi melalui pemasangan sensor otomatis, sistem alarm, dan mekanisme automatic stop untuk mencegah penumpukan permen. Implementasi usulan ini diharapkan dapat menurunkan tingkat reject, mengurangi kerugian produksi, meningkatkan kualitas produk, serta meningkatkan efisiensi proses produksi secara berkelanjutan di PT Candy JTK.
Copyrights © 2026