Kecerdasan buatan generatif, khususnya Large Language Model (LLM) seperti ChatGPT, telah mengubah ekosistem pembelajaran secara fundamental. Dalam konteks pendidikan vokasional, ChatGPT digunakan luas sebagai alat bantu belajar mandiri, namun efektivitasnya sangat bergantung pada keterampilan merumuskan prompt. Sebaliknya, penggunaan berlebihan berisiko menimbulkan illusion of competence dan ketergantungan. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi bentuk penggunaan prompting ChatGPT serta pengalaman siswa kelas X Rekayasa Perangkat Lunak (RPL) SMKN 12 Malang dalam pembelajaran pemrograman Dart pada mata pelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA). Menggunakan pendekatan kualitatif berdesain single-case embedded, data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dan observasi lapangan terhadap delapan partisipan yang dipilih secara purposive sampling. Analisis tematik enam tahap berbasis NVivo 14 menghasilkan tujuh tema utama. Keabsahan data dipastikan melalui triangulasi data dan member checking. Temuan menunjukkan bahwa siswa secara intuitif menerapkan empat teknik prompting (zero-shot, few-shot, chain-of-thought, dan role-playing), dengan kualitas prompting berkorelasi langsung terhadap pengetahuan domain pemrograman. Seluruh narasumber (8/8) mengalami illusion of competence sebagai konsekuensi struktural interaksi dengan LLM, lima narasumber mengalami disonansi kognitif, dan enam narasumber mengakui risiko cognitive offloading. Penelitian ini menyimpulkan bahwa dampak ChatGPT ditentukan oleh tingkat Self-Regulated Learning (SRL) dan metakognisi siswa, sehingga diperlukan panduan pedagogis terstruktur serta integrasi literasi AI dalam kurikulum pendidikan vokasional.
Copyrights © 2026