Murid dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) di sekolah dasar inklusif mengalami hambatan dalam memusatkan perhatian dan memahami konsep matematika yang bersifat abstrak, khususnya pecahan sederhana, sementara kolaborasi antara guru kelas dan guru pendamping khusus di lapangan masih berjalan tanpa model yang terstruktur. Penelitian ini bertujuan untuk (1) menganalisis kondisi pembelajaran murid ADHD, (2) mengembangkan model sinergi guru kelas dan guru pendamping khusus, dan (3) mengevaluasi kevalidan, kepraktisan, dan efektivitas model tersebut dalam meningkatkan hasil belajar murid ADHD pada materi pecahan sederhana. Penelitian menggunakan pendekatan Research and Development (R&D) dengan model ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation). Subjek penelitian adalah dua murid ADHD kelas II di SD Al Jihad dan SD Muhammadiyah I Kota Sorong beserta guru kelas dan guru pendamping khusus. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, angket, dan tes hasil belajar (pretest-posttest), kemudian dianalisis secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan model sinergi dinyatakan sangat layak dengan skor validasi 90-95,8% pada aspek kejelasan peran, strategi, media, dan keterlaksanaan model, serta dinilai praktis oleh guru dan guru pendamping khusus. Hasil belajar kedua subjek meningkat signifikan dari kategori rendah-sedang pada tes awal menjadi nilai maksimal pada tes akhir, disertai peningkatan fokus perhatian dan keterlibatan belajar. Penelitian ini menyimpulkan bahwa model sinergi guru kelas dan guru pendamping khusus valid, praktis, dan efektif digunakan untuk mendukung pembelajaran matematika murid ADHD dalam konteks pendidikan inklusif berbasis Kurikulum Merdeka.
Copyrights © 2026