Akreditasi klinik di Indonesia mewajibkan setiap klinik menyelenggarakan penilaian kinerja dan program pengembangan sumber daya manusia, namun kelengkapan dokumen tidak menjamin sistem tersebut mengubah perilaku kerja karyawan. Penelitian ini menganalisis hubungan komponen manajemen kinerja dan pengembangan SDM dengan kinerja karyawan, serta mengevaluasi kedalaman evaluasi program pengembangan SDM. Desain penelitian adalah observasional analitik dengan pendekatan potong lintang pada 68 karyawan sebuah klinik swasta di Bali yang dipilih secara total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner skala Likert yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya, diadaptasi dari instrumen manajemen kinerja baku dan Individual Work Performance Questionnaire, dilengkapi telaah dokumen yang dinilai dengan model empat level Kirkpatrick. Analisis dilakukan dengan uji korelasi Spearman dan regresi linier berganda. Seluruh komponen berhubungan signifikan dengan kinerja karyawan. Model regresi menjelaskan 44,6 persen varians kinerja; pemantauan dan umpan balik menjadi prediktor dominan, diikuti pengembangan SDM dan tindak lanjut penghargaan, sedangkan penilaian kinerja formal tidak memberi pengaruh independen yang signifikan. Evaluasi pelatihan mencapai level reaksi pada seluruh program, tetapi hanya 11,5 persen yang mencapai level perilaku.
Copyrights © 2026