Latar Belakang: Gaya hidup sedenter pada dewasa muda meningkatkan risiko pra-sarkopenia hingga 76,1%. Salah satu wilayah yang termasuk resiko tinggi adalah Makassar. Namun, deteksi dini oleh fisioterapis di Makassar masih terhambat oleh ketergantungan pada alat mahal dan kurangnya penguasaan metode skrining terbaru yang lebih praktis. Tujuan: Meningkatkan kompetensi fisioterapis dan mahasiswa dalam deteksi dini pra-sarkopenia menggunakan metode SARC-F dan lingkar otot betis. Metode: Pengabdian dilakukan melalui dua tahap: (1) Focus Group Discussion (FGD) dan Training of Trainer (ToT) bagi 46 anggota IFI Makassar, serta (2) Pelatihan skrining mandiri bagi mahasiswa profesi fisioterapi Polkesmas. Evaluasi dilakukan melalui pre-test, post-test, dan uji statistik Wilcoxon. Hasil: Terjadi peningkatan pengetahuan yang signifikan pada 69,6% peserta (\(p < 0,001\)), sementara 30,4% lainnya mempertahankan skor pada kategori "Baik". Melalui penugasan lapangan, kegiatan ini menargetkan jangkauan skrining pada 825 responden di Kota Makassar. Kesimpulan: Pemberdayaan fisioterapis melalui metode SARC-Calf merupakan strategi yang efektif, aplikatif, dan cost-effective dalam memitigasi risiko sarkopenia sejak usia produktif.
Copyrights © 2026