Local traditions play a strategic role as a vehicle for instilling Islamic values within community life. One tradition that is still actively practiced is basiru in Sekongkang Bawah Village, West Sumbawa, particularly during circumcision processions. This reciprocal mutual assistance tradition is rich in socio-religious meaning, yet the comprehension of its educational values remains minimal among the younger generation. This descriptive qualitative research aims to describe the implementation procession of the basiru tradition at circumcision events in Sekongkang Bawah Village and analyze the Islamic educational values contained within it. Data were gathered through direct observation techniques, in-depth interviews with key informants, and documentation, which were then analyzed through data reduction, data display, and conclusion drawing. The research findings indicate that the stages of basiru encompass tokal adat, basebada, penulung, bekelewang, the circumcision execution and baserakal, culminating in syukuran. This tradition embodies three pillars of Islamic educational values: akidah values through zikir, selawat, and supplication; akhlak values through gotong royong, care, and silaturahmi; and ibadah values through charity (sedekah) and mutual assistance (ta‘āwun). Consequently, the basiru tradition functions effectively as a local wisdom-based non-formal Islamic educational medium. ABSTRAK Tradisi lokal memiliki peran strategis sebagai sarana penanaman nilai-nilai Islam dalam kehidupan masyarakat. Salah satu tradisi yang masih dipraktikkan adalah basiru di Desa Sekongkang Bawah, Sumbawa Barat, khususnya dalam prosesi khitanan. Tradisi tolong-menolong timbal balik ini sarat makna sosial-keagamaan, namun pemahaman nilai edukatifnya masih minim dipahami oleh generasi muda. Penelitian kualitatif deskriptif ini bertujuan untuk mendeskripsikan prosesi pelaksanaan tradisi basiru pada acara khitanan di Desa Sekongkang Bawah serta menganalisis nilai-nilai pendidikan Islam yang terkandung di dalamnya. Data dihimpun melalui teknik observasi langsung, wawancara mendalam terhadap informan kunci, dan dokumentasi, yang kemudian dianalisis melalui tahap reduksi, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan tahapan basiru meliputi tokal adat, basebada, penulung, bekelewang, pelaksanaan khitan dan baserakal, hingga syukuran. Tradisi ini memuat tiga pilar nilai pendidikan Islam: nilai akidah melalui zikir, selawat, dan doa; nilai akhlak melalui gotong royong, kepedulian, dan silaturahmi; serta nilai ibadah melalui sedekah dan tolong-menolong (ta‘āwun). Dengan demikian, tradisi basiru berfungsi efektif sebagai media pendidikan Islam nonformal berbasis kearifan lokal.
Copyrights © 2026