Masa remaja merupakan fase yang rentan terhadap tekanan sekolah. Kondisi inisering memicu emosi negatif yang berdampak pada pola makan, salah satunya perilaku emotionaleating, kebiasaan makan makanan manis atau berkalori tinggi saat stres. Jika dibiarkan, fenomenaini berisiko memicu masalah gizi. Penelitian dilakukan di Sekolah Menengah AtasMuhammadiyah 4 Yogyakarta karena memiliki beban kurikulum yang padat. Tujuan:Menganalisis hubungan antara stres akademik dengan perilaku emotional eating pada siswa remajadi Sekolah Menengah Atas Muhammadiyah 4 Yogyakarta. Metode: Penelitian kuantitatif analitikobservasional (cross-sectional) melibatkan 71 sampel dari total 227 siswa (15–18 tahun) yangdipilih dari teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan Educational Stress Scalefor Adolescent (ESSA) dan Emotional Eater Questionnaire (EEQ), lalu dianalisis menggunakanuji Fisher’s Exact Test. Hasil: Mayoritas siswa mengalami stres akademik sedang (77,46%),diikuti tinggi (19,72%) dan rendah (2,82%) akibat beban tugas serta kekhawatiran nilai. Perilakuemotional eating didominasi kategori sedang-tinggi (57,74%), rendah (36,62%), dan tinggi(5,63%). Uji statistik membuktikan adanya hubungan signifikan (p = 0,003) antara tingkat stresakademik dan peningkatan perilaku emotional eating sebagai mekanisme koping maladaptif.Kesimpulan: Terdapat hubungan signifikan antara stres akademik dan perilaku emotional eatingpada siswa SMA Muhammadiyah 4 Yogyakarta, sehingga sekolah diharapkan mengoptimalkanprogram pencegahan stres dan edukasi gizi.
Copyrights © 2026