Rendahnya literasi keuangan dan lambatnya adopsi pembayaran digital tetap menjadi tantangan utama bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di daerah pedesaan Indonesia. Penelitian ini mengidentifikasi proses adopsi Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) serta hubungannya dengan komponen literasi keuangan di kalangan pelaku UMKM di Desa Plosokandang. Dengan menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif terhadap enam pelaku UMKM, temuan menunjukkan bahwa adopsi QRIS sebagian besar bersifat reaktif, didorong oleh permintaan pelanggan, dengan intensitas penggunaan hanya 20–40% dan terbatas pada fitur-fitur dasar. Adopsi QRIS secara parsial meningkatkan literasi keuangan, terutama dalam pemantauan arus kas dan pemisahan keuangan usaha dan pribadi. Penelitian ini mengidentifikasi praktik literasi hibrida kombinasi pencatatan manual dan digital sebagai strategi adaptasi rasional di tengah keterbatasan infrastruktur dan literasi digital. Dengan menggunakan Technology Acceptance Model (TAM), Perceived Ease of Use dan Perceived Usefulness menjadi pendorong utama, meskipun terdapat hambatan seperti koneksi internet yang tidak stabil dan kurangnya dukungan pasca-adopsi. Penelitian ini berkontribusi pada studi literasi informasi dengan menyoroti praktik literasi hibrida dalam transformasi digital UMKM pedesaan.
Copyrights © 2026