Disinformasi di wilayah rentan konflik seperti Papua memiliki implikasi sosial yang fatal, sebagaimana dibuktikan oleh eskalasi kerusuhan Wamena 2023 akibat penyebaran hoaks. Penelitian ini mengkaji peran strategis Cenderawasih Pos sebagai civic media dalam menangkal disinformasi sekaligus bertindak sebagai agen pendidikan kewarganegaraan (PKn). Pendekatan deskriptif kualitatif digunakan melalui teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dengan delapan informan yang terdiri atas redaktur, jurnalis verifikasi, dan tim media sosial Cenderawasih Pos, serta didukung oleh analisis dokumen editorial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Cenderawasih Pos menjalankan peran civic media melalui tiga mekanisme: (1) membangun civic knowledge, civic skills, dan civic dispositions warga melalui konten diskusi analitis; (2) menerapkan arsitektur editorial anti-disinformasi berlapis; dan (3) mengoptimalkan jangkauan geografis di wilayah terpencil yang tidak terjangkau oleh media nasional. Kendati demikian, efektivitas peran tersebut masih terhambat oleh laju penyebaran hoaks yang asimetris dibandingkan proses verifikasi, keterbatasan sumber daya redaksional, dan rendahnya literasi digital masyarakat. Temuan ini menegaskan bahwa optimalisasi civic media lokal di Papua menuntut intervensi ekosistemik, bukan sekadar penguatan institusional internal media.
Copyrights © 2026