Industri batik di Daerah Bayat Kabupaten Klaten telah mengalami perkembangan signifikan dengan pemanfaatan teknologi modern dan dukungan pemerintah daerah melalui pelatihan dan promosi produk. Tanah liat di Daerah Bayat yang melimpah memiliki kandungan 67 mineral penting (seperti zat besi, kalsium, magnesium, dan potassium) dengan variasi komposisi kimia yang berpotensi menghasilkan warna-warna alami (kuning, merah, atau coklat) untuk batik. Bima Sena Batik sebagai salah satu pelopor industri batik di wilayah Bayat masih terbatas dalam pemanfaatan tanah liat sebagai pewarna. Penelitian ini mengkaji proses ekstraksi, aplikasi, dan ketahanan warna dari tanah liat khas Daerah Bayat untuk pengembangan alternatif pewarna alami yang ramah lingkungan, memperkaya estetika corak dan warna batik yang khas sekaligus upaya pelestarian tradisi dan kearifan lokal dalam produksi batik. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan pendekatan eksperimen. Analisis data dilakukan secara statistik deskriptif. Penelitian ini menggunakan variabel utama dan variabel kontrol yang berpedoman pada teori Sugiyono dengan tahapan penelitian perencanaan, pengumpulan data, pengolahan data, serta interpretasi hasil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan tanah liat khas daerah Bayat sebagai pewarna alami dapat menghasilkan warna yang efektif dan memiliki ketahanan yang baik terhadap pencucian serta gosokan. Proses fiksasi dengan kapur dan tunjung terbukti memberikan pengaruh signifikan terhadap ketahanan warna yang dihasilkan. Jumlah pencelupan tanah liat yang dilakukan (6x, 10x, dan 15x) berpengaruh terhadap intensitas dan ketahanan warna pada kain batik.
Copyrights © 2025