Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan teori sosial kritis dalam penguatan Pendidikan Agama Islam (PAI) sebagai upaya membangun kesadaran, emansipasi, dan transformasi sosial di lingkungan pendidikan. Teori sosial kritis, yang berakar dari pemikiran Frankfurt School dan tokoh-tokoh seperti Jürgen Habermas, dipandang relevan untuk menyoroti praktik pendidikan agama yang tidak hanya menekankan aspek normatif-doktrinal, tetapi juga menumbuhkan daya kritis peserta didik terhadap realitas sosial, budaya, dan politik kontemporer. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan pendekatan analisis konten terhadap jurnal-jurnal ilmiah terkait pendidikan agama Islam dan teori kritis. Hasil kajian menunjukkan bahwa penerapan teori sosial kritis dalam PAI berimplikasi pada tiga dimensi utama: (1) pembebasan pendidikan agama dari sekadar transfer dogma menuju praksis transformatif; (2) penguatan literasi kritis peserta didik terhadap isu-isu ketidakadilan sosial, radikalisme, dan degradasi moral; serta (3) konstruksi pendidikan agama yang lebih dialogis, partisipatif, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat modern. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penerapan teori sosial kritis dapat memperkaya paradigma PAI, sehingga tidak hanya membentuk kesalehan individual tetapi juga melahirkan kesadaran sosial dan tanggung jawab kolektif. Dengan demikian, integrasi teori sosial kritis dalam pendidikan agama Islam merupakan langkah strategis untuk membangun generasi muslim yang religius, kritis, dan transformatif dalam menghadapi dinamika global.
Copyrights © 2025