Munculnya berbagai kasus diskrepansi moral yang melibatkan tokoh agama terpandang belakangan ini telah menciptakan kegelisahan sosioreligius yang serius, di mana masyarakat kerap terjebak di antara skeptisisme buta atau ketaatan yang tidak kritis. Penelitian ini berupaya membedah akar paradoks tersebut melalui lensa interdisipliner, yaitu dengan mengonfrontasi gagasan Kecerdasan Emosional Daniel Goleman dengan konsep Tazkiyatun Nafs milik Imam Al-Ghazali. Dengan mengandalkan metode penelitian kepustakaan melalui pendekatan fenomenologi, kajian ini menelusuri bagaimana pemisahan antara kapasitas intelektual dan kematangan psikospiritual dapat terjadi dalam realitas sosial. Hasil analisis menunjukkan bahwa penguasaan mendalam atas teks-teks suci sering kali tidak linear dengan integritas personal apabila individu mengalami kegagalan dalam mengelola ego dan kesadaran emosionalnya. Ilmu agama, dalam konteks ini, justru berisiko bertransformasi menjadi alat pembenaran atas perilaku menyimpang. Sehingga, integrasi antara kesehatan mental dan pembersihan jiwa menjadi kebutuhan mendesak untuk mencegah lahirnya figur otoritas yang hanya cerdas secara tekstual namun rapuh secara karakter.
Copyrights © 2026