Tradisi berkumpul untuk menuntut ilmu merupakan salah satu pilar paling mendasar dalam peradaban Islam. Artikel ini mengkaji akar historis tradisi halaqah sejak masa Rasulullah SAW, menelusuri proses transformasinya menjadi majelis ilmu pada era keemasan Islam, serta menganalisis relevansinya bagi pendidikan Islam kontemporer. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka, penelitian ini menganalisis jurnal ilmiah, buku sejarah, dan teks klasik. Hasilnya menunjukkan bahwa halaqah bermula dari lingkaran kecil di Dar al-Arqam dan Ahl al-Suffah, lalu bertransformasi secara organis menjadi majelis keilmuan yang terlembaga seperti Madrasah Nizamiyah di Baghdad. Transformasi ini memperluas nilai-nilai intinya tanpa memutus tradisi, meliputi interaksi tatap muka (talaqqi), ketersambungan rantai keilmuan (sanad), pembentukan etika (adab), dan fungsi sosial untuk merekatkan umat. Kesimpulannya, majelis ilmu bukan hanya fenomena historis, melainkan sistem epistemologi Islam yang hidup dan tetap relevan di era modern, meskipun dihadapkan pada tantangan adaptasi medium digital.
Copyrights © 2026