Keberadaan pesantren tahfiz di tengah masyarakat Hindu menempatkan pendidikan Islam dalam ruang sosial yang menuntut keteguhan identitas sekaligus kemampuan beradaptasi. Penelitian ini menganalisis pembentukan harmoni sosial dan praktik moderasi beragama di Pondok Pesantren Raudlatul Huffadz, Tabanan, Bali. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara dengan pimpinan pesantren, santri, dan perangkat desa, disertai observasi serta dokumentasi; data dianalisis melalui kondensasi, penyajian, dan penarikan kesimpulan dengan triangulasi sumber dan teknik. Temuan menunjukkan bahwa harmoni dibangun melalui penghormatan timbal balik, penyesuaian sosial, partisipasi dalam kebutuhan kemasyarakatan, dan komunikasi lintas kelompok. Moderasi beragama diwujudkan melalui pembelajaran Al-Qur’an yang kontekstual, dakwah tanpa kekerasan, penghargaan terhadap tradisi lokal, dan distribusi daging kurban kepada tetangga Hindu. Kepemimpinan kiai menjadi penghubung antara pendidikan tahfiz, fikih sosial, dan kearifan lokal. Studi ini menegaskan moderasi relasional sebagai praktik pendidikan yang tumbuh dari interaksi keseharian.
Copyrights © 2026