Pada era 5.0 yang ditandai dengan hadirnya budaya Post-Truth, pemikiran mahasiswa cenderung mengutamakan persepsi rasional dan empiris. Sehingga dapat berimplikasi pada mereduksi intuisi yang murni pemberian Tuhan. Akan tetapi, hakikatnya manusia tidak bisa lepas dari pusat eksistensi atau tuhan. penelitian ini berusaha mengungkap fakta-fakta yang berkembang terkait konsep Asketisme yang ditawarkan sebagai nilai bagi mahasiswa untuk menghadapi budaya Post-Truth. Selain itu, penulis berusaha memformulasikan konsepsi Asketisme sebagai alternatif solusi terkait eksistensi mahasiswa yang berada pada jembatan antara dunia Pendidikan dan dunia kerja. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan jenis eksploratif yang bersifat kualitatif-deskriptif dan bercorak pure research. Melihat pada realitas saat ini, maka perlu adanya integrasi dan interkoneksi antara pemikiran beberapa akademisi kontemporer dengan pembacaan beberapa pemikir Islam. Hasil yang didapatkan menunjukkan bahwa asketisme modern memerlukan integrasi pilar pendidikan, Mental Building, dan Zero Mind Process. Implikasi dari tiga hal yang telah tertuang adalah dapat meminimalisir tindakan yang kurang bermanfaat dan juga dapat menjaga keseimbangan antara hubungan mahasiswa sebagai manusia dengan Tuhan, serta mewujudkan peran mahasiswa sebagai agent of change terhadap lingkungan sekitar.
Copyrights © 2024