Sejarah kodifikasi Al-Qur’an merupakan bagian penting dalam perkembangan tradisi keilmuan Islam sekaligus memiliki relevansi kuat terhadap pendidikan. Proses pemeliharaan Al-Qur’an sejak masa Nabi Muhammad saw., penghimpunan pada masa Abu Bakar al-Shiddiq, hingga standardisasi mushaf pada masa Utsman bin Affan menunjukkan adanya hubungan erat antara tradisi lisan, tradisi tulis, dan pengembangan literasi umat Islam. Artikel ini bertujuan menganalisis sejarah kodifikasi Al-Qur’an, perkembangan tradisi literasi yang menyertainya, serta relevansinya terhadap pengembangan pendidikan Islam. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan dan analisis historis-deskriptif. Data diperoleh dari Al-Qur’an, hadis, kitab ulum Al-Qur’an, buku sejarah, serta artikel ilmiah yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa kodifikasi Al-Qur’an berlangsung secara bertahap melalui proses hafalan, penulisan, verifikasi, penghimpunan, dan standardisasi. Proses tersebut menunjukkan bahwa tradisi literasi Islam sejak awal dibangun melalui integrasi kemampuan membaca, menulis, menghafal, memahami, dan mentransmisikan pengetahuan. Dalam konteks pendidikan Islam, sejarah kodifikasi memberikan prinsip penting berupa ketelitian sumber, verifikasi pengetahuan, penghargaan terhadap tradisi keilmuan, budaya membaca-menulis, dan integrasi literasi lisan dengan literasi tertulis. Dengan demikian, kodifikasi Al-Qur’an tidak hanya memiliki makna historis-teologis, tetapi juga menjadi inspirasi epistemologis dan pedagogis bagi pengembangan pendidikan Islam.
Copyrights © 2026