Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara para seniman dalam menciptakan, menyajikan, serta memperoleh pengakuan atas karya mereka. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana para seniman muda Indonesia membangun identitas dan legitimasi kesenimanan mereka melalui platform digital, khususnya dengan melihat peran media sosial, perangkat digital, dan kecerdasan buatan (AI). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, yang menggabungkan wawancara semi-terstruktur terhadap 14 seniman Indonesia yang aktif membagikan karyanya secara daring dan kajian pustaka. Studi ini menggunakan landasan teori institusional seni dari Dickie, konsep habitus dan kapital simbolik dari Bourdieu, serta estetika relasional dan pemikiran pasca-humanis. Hasil studi ini menunjukkan adanya pergeseran dalam pusat pengakuan artistik. Jika sebelumnya legitimasi diberikan oleh institusi formal seperti galeri dan kurator, kini hal tersebut semakin dipengaruhi oleh interaksi dengan audiens, keterlibatan di media sosial, dan partisipasi dalam open call. Para seniman menerapkan berbagai strategi kreatif: ada yang fokus menggunakan teknik tradisional seperti melukis atau menggambar, sementara yang lain memadukan perangkat digital dalam proses pencarian ide maupun penyelesaian akhir. AI pun dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk pengembangan konsep, tetapi peran seniman sebagai pencipta karya tetap menjadi yang utama.
Copyrights © 2026