Perkembangan teknologi komunikasi digital telah mengubah paradigma pengelolaan lembaga kebudayaan, termasuk museum, dari ruang fisik menuju ranah digital yang interaktif. Transformasi ini menuntut strategi komunikasi yang adaptif dan berkelanjutan agar museum tetap relevan dan mampu menjangkau publik yang lebih luas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran media sosial sebagai sarana strategi pemasaran informasi Museum Sonobudoyo. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara, dan dokumentasi, yang kemudian dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Museum Sonobudoyo telah menerapkan sebagian besar elemen bauran komunikasi pemasaran menurut Kotler dan Keller, meliputi sales promotion, events and experiences, public relations and publicity, online and social media marketing, mobile marketing, direct and database marketing, serta personal selling. Strategi tersebut berhasil memperkuat citra museum sebagai lembaga edukatif dan pelestarian budaya yang dinamis, meningkatkan partisipasi publik, serta memperluas jangkauan audiens, khususnya generasi muda. Dengan demikian, komunikasi pemasaran digital berperan penting dalam membangun keterlibatan publik dan memperkuat fungsi museum di era transformasi digital.
Copyrights © 2026